Translate

Jumat, 10 Juni 2016

I Look I Doing : Part 1 - Si Kaya dan Si Miskin

I LOOK I DOING : Part 1 - Si Kaya dan Si Miskin

            Ku berjalan mengitari jalan yang tak jelas entah kemana, pagi malam tak terasa, ku tetap jejaki jalanan yang penuh dengan rintangan, kadang terasa mudah dan kadang sebaliknya sangat terjal bahkan, tapi apa yang kurasakan ini sama dengan apa yang aku lihat, apa itu ? sebuah alur kehidupan yang tak pernah terhenti terus berjalan, kadang ku berada di keramaian kadang di tempat yang sunyi, ku bisa melihat sekelilingku, semua sibuk dengan aktifitasnya, ada yang bahagia, senang suka duka gembira marah tergesa-gesa sombong semua bisa aku lihat, kesenjangan antara orang kaya dan miskin di dunia ini sngguh terlihat dan nampak jelas, entah kenapa aku melihat dan bisa berpikir sedemikian padahal orang lain belum tentu memikirkannya, kehidupan ini sungguh kompleks dan bermacam-macam rupa kenapa hal ini bisa terjadi, kenapa tidak sama saja, inikah yang disebut dinamika kehidupan, sang pencipta sudah mengatur sedemikian rupa semua sudah tersetting tidak direncanakan dan tidak bisa untuk disusun oleh manusia.



            Ku melihat di suatu tempat yang membuat hatiku tersentuh, hatii nurani ku menangis, ada dua kelompok yang pertama si kaya dan yang satunya si miskin atau bisa dikatakan kaum dhuafa, ketika azan berkumandang menandakan waktu berbuka puasa sudah tiba, si kelompok kaya tadi sudah siap di depannya hidangan yang mewah dan mahal sudah siap untuk disantap, mereka dengan lahap menyantapnya, sedangkan yang kelompok satunya tadi bingung mau berbuka memakai apa, mereka bersama anak-anaknya mengemis meminta-minta berharap belas kasihan orang-orang dan tiba waktunya mereka menghampiri kelompok kaya tadi mencoba mengemis tapi apa mereka benar-benar seperti sampah tidak dianggap dan terus melahap makanannya, dan tapi karena alloh maha pemurah dan pengasih alhamdulilah orang yang mempunyai suata restoran tadi memberi makan mereka langsung saja ceria dan segera untuk menyantapnya itupun di pinggir jalan di tengah trotoar, mereka langsung menyantapnya dan anak-anaknya berebutan padahal itu terasa sedikit dan kurang tetapi mereka merasa senang dan bahagia, dan di salah satu sisi si kelompok kaya tadi ada salah satu yang menyisakan makanannya tidak habis karena sudah kenyang, dan dia berhenti memakannya, dia melihat pengemis tadi tepat di depannya anak-anaknya melihat dia, diapun dihampiri dan berkata boleh minta air tehnya, kelompok tadi tidak menghiraukan dan kelihatan jijik, astagfirulloh sungguh ku tak tahu kenapa hal sedemikianbisa terjadi membuat hatiku menangis dan terenyuh alloh inikah kehidupan, kadang terasa pahit dan kadang manis, inilah kehidupan inilah kenyataan.

            Jika suatu saat waktu sudah berhenti, semua tak akan berarti yang ada di dunia ini, apa lagi yang bisa kita banggakan, semua terasa hilang dan musnah, teman sejati hanyalah sepi dan sendiri. . . 

.I Look I Doing


WELCOME TO THE MY FAMILY

Tidak ada komentar:

Posting Komentar